Unknown
beberapa hari ini mood swing gue udah sampai di titik paling rendah, udah bener - bener terasa kaya orang nggak tentu arah. detik ini ketawa, sedetik kemudian nangis, sekarang bahagia senyum - senyum , ntar bisa tiba - tiba nangis. salah satu sifat jelek yang belum bisa gue hilangin dari dulu, mood swing yang benar - benar parah. untungnya sekarang gue lagi dirumah, jadi kalau mood swing gue kambuh, gue cuma perlu kunci pintu kamar trus baca buku atau duduk manis di depan laptop.

akhir - akhir ini gue suka kefikiran soal jodoh, iya jodoh. mungkin karena beberapa orang terdekat gue selalu curhat soal jodoh, mungkin juga karena bentar lagi mau mendoa seratus harinya oom gue tersayang, apalagi waktu beliau sedang di rumah sakit saat itu, beliau pernah ngomong ke ibu gue kalau beliau pengen liat gue nikah, sayangnya gue belum bisa mengabulkan keinginan beliau, beliau terlebih dulu bahagia karena sudah berada sisi Allah sekarang.

kenapa gue mikirin jodoh? mungkin karena umur gue yang memang sudah seharusnya punya pendamping hidup, apalagi dari dulu gue selalu membayangkan bakalan nikah di umur dua lima, apalagi nabi Muhammad SAW, nikah juga di umur dua lima. tapi kenyataannya gue udah dua empat, enam bulan lagi umur gue udah jadi dua lima, dan yang lebih penting lagi gue masih single, belum punya calon imam. beberapa orang terdekat gue yang selalu curhat tentang kegalauannya soal jodoh, pernah nanya apa gue nggak punya keinginan buat segera nikah?, kalau boleh jujur mah gue juga pengen segera punya imam, tapi gue nggak pernah jujur bilang kalau gue juga mau segera dipertemukan dengan jodoh yang sudah digariskan Allah buat gue, gue selalu berlagak nggak mau segera nikah, gue selalu bilang mau menikmati kesendirian gue yang baru gue dapetin setelah terjebak hubungan bertahun - tahun dengan seseorang, gue pun selalu menghindar setiap topik soal nikah mulai dibicarakan. 

orang terdekat gue pernah bilang kalau dia pengen punya pendamping yang bisa jadi imam sekaligus sahabat. salah satu teman gue pun bilang kalau boleh milih mungkin dia bakalan nikah sama sahabatnya sendiri. alasannya sih karena kalau sahabat kan udah kenal kita dari semua sisi, jadi nggak perlu adaptasi lagi ntar. gue sebenarnya nggak setuju sama pendapat temen gue itu.

kenapa gue nggak setuju? karena gue pernah berada dikeadaan dimana gue dan sahabat gue punya rasa yang sama, waktu dia nyatain gue lebih memilih untuk diam dan tetap menganggap dia sahabat gue plus mengubur rasa gue ke dia, gue ngelakuin itu karena gue takut kehilangan dia, lagian ntar disaat hubungan kita bergeser dari yang namanya sahabat mungkin gue akan salah tingkah setiap bertemu dengannya, mungkin gue nggak akan bisa jadi diri gue sendiri lagi.

Unknown
dear pria yang selalu merasa ganteng,,,

kamu mungkin tidak tau betapa bahagianya aku waktu kita akhirnya bertemu lagi, sudah berapa tahun kita lewati tanpa pernah bertemu bahkan tanpa komunikasi sedikitpun? aku sangat bahagia hari itu, karena akhirnya kita bisa bertemu lagi, walau diawali dengan kecanggungan antara kita. tapi aku mengerti, waktu bertahun - tahun mungkin sudah menciptakan jarak yang sangat besar diantara kita. hari itu sebenarnya aku sangat tidak bisa menahan mataku untuk tidak menatapmu, walau engkau masih seperti dulu, tapi garis - garis halus kedewasaan yang tergurat diwajahmu sungguh mempesonaku. 

kamu, pria yang sudah kukenal sejak kita masih sama - sama berseragam putih merah, satu - satunya pria yang membuatku nyaman untuk jadi diri sendiri, pria yang tetap tersenyum menerima semua tingkahku, pria yang bisa mengimbangiku dalam pembicaraan apapun, kita tidak pernah kehilangan topik waktu berbicara berdua. pria yang bisa langsung mengerti hanya dengan melihat wajahku, pria yang tidak pernah bisa berkata tidak padaku, pria yang punya banyak kesamaan denganku dalam segala hal. pria yang mau membunh waktu bersamaku dalam diam.

kamu, pria jangkung berambut lurus dengan senyum menawanmu, aku sangat menyesal dengan kejadian waktu itu, kejadian yang membuatmu memutuskan menjauh dariku hanya karena kamu mau melihatku bahagia. aku memang sangat bodoh waktu itu, kenapa aku lebih memilih dai yang waktu itu berstatus sebagai pacarku dibandingkan kamu sahabat yang sudah disisiku selama belasan tahun. kalau seandainya waktu bisa diulang kembali aku akan memperbaiki semua, karena nasehat kamu pada waktu itu benar adanya, kalau dia yang waktu itu berstatus sebagai pacarku bukanlah orang yang bisa membahagiakanku.

aku kangen kamu, kangen berjalan berdua di tepi pantai sambil menceritakan film kesukaan kita, aku kangen tepukan pelan di kepalaku saat kamu geregetan melihat tingkah ku. aku kangen ketika menyeberang jalan kamu selalu memegang tanganku karena kamu tau aku paling takut menyeberang jalan sendiri. aku kangen waktu kamu menarik ikat rambutku karena kamu lebih suka melihat rambutku tergerai bebas daripada terikat, aku kangen waktu kita makan berdua kamu selalu mengambil sayuran di piringku karena kamu tau aku tidak suka sayur. aku kangen ketika kamu tiba - tiba sudah berada didepan rumahku, waktu aku tanya ada apa? kamu cuma tersenyum dan langsung masuk kerumah tanpa perlu menunggu aku menyuruhmu masuk. aku kangen melihatmu menampilkan wajah sok coolmu ketika aku berkata kalau ada wanita yang sedang melihatmu. aku kangen saat kamu langsung menghampiriku saat aku hanya mengirim sebuah sms kosong padamu. aku kangen becandaanmu yang kadang garing tapi tetap saja membuatku tertawa. aku kangen kita menghabiskan waktu melihat bintang atau menatap hujan yang turun dalam diam. aku kangen mendengarmu bernyanyi sambil bermain gitar, aku kangen waktu kita sama - sama menertawakan sesuatu hanya dengan saling pandang, aku kangen waktu kamu mengelus kepalaku saat aku sedang pusing dengan tugas - tugas kuliahku.aku kangen waktu kamu memintaku memasak sesuatu buatmu, aku kangen kita pergi tracking lagi, kangen waktu kita pergi jogging berdua, kamu yang biasany suka bangun siang, rela bangun pagi hanya untuk menemaniku jogging untuk menghilankan beban fikiranku, aku kangen saat aku menangis dihadapanmu, kamu hanya diam sambil mengelus kepalaku, aku kangen saat kita berdua kehujanan, kamu malah memakaikan jaketmu padaku, padahal waktu itu kamu sedang flu. aku kangen melihat wajah kaku dan ogah - ogahanmu saat aku bercerita tentang pria yang dekat denganku.

aku masih mengingat dengan jelas semua hal yang sudah kita lalui, persahabatan kita mungkin memang bukan murni rasa sayang antar sahabat, karena kamu adalah pria pertama yang menyatakan perasaan padaku, tapi aku tidak bisa menjawabnya karena takut kehilangan seseorang sepertimu, setelah bertahun - tahun bersahabatpun aku tau rasamu padaku masih sama seperti dulu saat kamu menyatakannya padaku, satu hal yang mungkin kamu tidak akan pernah tau, kalau aku sebenarnya punya perasaan yang sama terhadapmu, tapi ketakutan akan kehilangmu, membuatku memilih tidak mengatakannya padamu. aku tau kamu sakit waktu kamu tau sahabatmu menyukaiku, bahkan kamu lah yang berperan jadi mak comblang antara aku dan sahabatmu.aku pun tau kamu kesal waktu aku memaksamu jadian dengan sahabatku, walau terpaksa tapi akhirnya kamu mau juga. aku tau bagaimana perasaanmu saat aku memutuskan untuk lagi - lagi tidak memilihmu sebagai pendampingku, bahkan memilih untuk menjauhimu waktu dia yang berstatus sebagai pacarku waktu itu memintaku memilih antara dia atau kamu. aku masih mengingat dengan jelas bagaimana punggung tegapmu akhirnya membelakangiku dan perlahan menghilang dari pandanganku.hatiku hancur waktu itu, bahkan sampai sekarang aku masih menyalahkan diriku karena kejadian itu.

kepada kamu, pria yang istimewa setelah ayahku, mungkin kita berdua tidak akan bisa seperti dulu lagi, mungkin kita juga akan selalu canggung setiap bertemu, mungkin pula tidak akan ada pertemuan lagi untuk kita, tapi aku lega sudah meminta maaf langsung padamu untuk semua tingkah bodohku dimasa lalu,aku benar - benar menyesal telah memperlakukanmu begitu buruk. keadaanku sekarang mungkin karma karena telah menyia - nyiakan pria hebat dan sebaik dirimu, akhirnya aku merasakan bagaimana rasanya saat rasa kita sudah berhenti dan tidak bisa kemana lagi.dulu kamu selalu bilang rasamu sudah berhenti di aku dan tidak bisa kemana lagi, walaupun kamu mempunyai hubungan dengan yang lain tapi aku akan selalu di prioritas hati kamu. akhirnya aku tau seberapa dalam kamu menyimpan lukamu dulu, karena sekarang aku juga berada diposisimu, tapi tuhan sepertinya hanya mengirim kamu menjadi sahabat bagiku, karena dari sekian banyak waktu kita bersama, rasaku malah berhenti di orang yang tidak punya perasaan apa - apa  padaku. tragis memang tapi begitulah jalan hidup yang sudah digariskan tuhan untuk kita
Unknown
" lebih baik kamu tanya dulu hati kamu, mau ga diperjuangin? mau ga berjuang? udah sedalam apa sih rasa kamu terhadap dia? penasaran atau beneran punya rasa? "


sebuah bagian dari percakapan antara gue dan mantan gue hari itu. sebenarnya hari itu gue lagi feeling blue, lagi nggak pengen diganggu, lagi pengen menyendiri dikamar sambil baca buku. as an introvert, gue memang selalu melarikan diri dengan baca buku, dengar musik atau tidur. gue lebih suka sendiri dari pada mesti keluar rumah ketemu keramaian yang sering bikin gue sakit kepala. awalnya gue berniat untuk mematikan handphone seharian, tapi entah mengapa baru saja mau matiin handphone, tiba - tiba handphone gue bunyi, pas diliiat ternyata mantan gue nelpon. gue sampai sekarang emang belum bisa mengkategorikan mantan itu masuk dimana, mau dianggap temen, susah, dianggap sahabat juga ga bisa. tapi gue bersyukur hubungan gue dengan mantan gue masih baik walau kita putus, masih sering komunikasi walau dia hubungi gue kalau lagi berantem sama pacar barunya plus curhat minta saran ke gue gimana bisa baikan lagi.

hari itu dia nelpon gue karena kangen  ( iya , kangen. kangen ngebully gue maksudnya ) dan karena udah lumayan lama kami nggak ketemu dan komunikasi. berhubung saat itu mood gue lagi dalam kondisi yang nggak baik, gue cuma menimpali obrolannya seadaanya, nggak begitu antusias tapi kalau mau matiin juga nggak enak. tapi untungnya dia ngerti gue ( ya iyalah ngerti, secara dulu paling sering ngehadapin gue dalam bad mood yang sering ilang timbul ), mungkin karna gue nggak begitu antusias, akhirnya dia nanya, gue kenapa, lagi ada masalah?. itulah kelemahan gue gue emang suka nyimpan semua sendiri, agak sedikit susah untuk mulai cerita, tapi begitu udah ditanya, gue akan akan cerita tanpa jeda sedikitpun, hahaha. karena itulah, dimulailah curhatan gue ke dia. 

setelah gue curhat panjang lebar, dia cuma ketawa, gondok banget kan waktu kita udah curhat panjang lebar malah ditanggapi dengan ketawa, makin gue kesel, dia semakin ketawa lebih keras. akhirnya setelah sadar kalau gue diam seribu bahasa, dia akhirnya nanya, " trus kalau emang kamu udah ngerasa jelas dan tau gimana kamu sama dia pada akhirnya, kenapa masih bertahan? kenapa masih keukeh nunggu dia? kenapa nggak coba buka hati kamu buat orang lain yang lebih jelas punya rasa sama kamu, daripada dia yang masih nggak jelas? ". gue hanya diam, pertanyaan yang sama dari beberapa orang, gue udah sering ditanyain pertanyaan kaya gini dan sampai sekarang gue masih belum tau jawabannya apa. 

mungkin karena gue diam, dia lanjut ngomong, " kamu belum berubah ya, masih tetap nggak peka dan cuek, masih suka main tebak - tebakkan ". gue hanya bisa tertawa mendengar dia ngomong begitu tentang gue, ya gue akui gue memang masih seperti yang dia bilang, gue masih ngga peka sama perasaan sendiri ataupun perasaan orang lain. kalau difikir - fikir lagi, dulu waktu gue dan dia masih berada dalam satu hubungan, dia lah yang sering berjuang untuk kita, dia lah yang banyak bersabar dalam menghadapi cuek gue yang sudah mendarah daging, jadi wajar aja dia lebih milih yang lebih perhatian dibanding gue ;').

perbincangan hari itu dengan dia, sedikit banyaknya udah ngebuka hati dan mata gue, gue memang belum berubah, masih belum bisa menghilangkan sikap gue yang amat sangat teramat cuek, apalagi dia bilang kalau cowok itu suka diperhatiin. dia juga nyuruh gue untuk mikirin soal hati gue yang sebenarnya, gue diminta buat misahin antara penasaran sama rasa. dia juga minta gue untuk lebih mikirin dengan serius soal pandangan gue tentang bebas dan sendiri. ah, seandainya dia tau kalau salah satu yang membuat gue betah sendiri sampai sekarang, karena gue trauma untuk punya hubungan yang lama tapi ujung - ujungnya ditinggal juga. hahaha. 

gue memang complicated, gue berfikir gue sayang dan i wanna make him to be mine, tapi kenyataannya gue nggak pernah berjuang untuk dapetin dia, gue berfikir kalau gue kalau gue sayang, tapi gue nggak pernah mau jadi lebih cantik hanya untuk dia, gue berfikir gue sayang, tapi gue malah selalu cuek dan tidak sedikitpun berusaha memahami, mengenal dia lebih dalam, gue nggak tau apa yang dia suka, dia alergi terhadap apa, apa yang bisa bikin dia kesel, apa hal yang bikin dia seneng. ah, pembicaraan hari itu bener - bener bikin gue berfikir lagi, mungkin gue memang lebih baik sendiri, memantaskan diri gue untuk jodoh gue kelak, karena perempuan yang baik untuk laki - laki yang baik kan?

terima kasih untuk telpon yang tidak terduga hari itu, gue beruntung punya seseorang seperti dia, walau hubungan kita berubah, tapi untungnya kita berdua sekarang jadi lebih baik, malah jauh lebih baik dibandingkan saat kita masih sama -sama.
Unknown
kepada kamu,

sebelumnya aku minta maaf, maaf karena sudah punya rasa yang seharusnya tidak boleh aku rasakan. kenapa tidak boleh? bukankah rasa itu juga anugrah dari tuhan? mungkin kamu akan bertanya seperti itu. dulu aku pun berfikir seperti demikian, tapi semakin berkurangnya umurku dan semakin dewasanya aku memaknai hidup, akhirnya aku sadar kalau aku tidak boleh punya rasa terhadapmu. seharusnya aku menyimpan dan memupuk rasa itu untuk seseorang yang akan jadi imamku kelak. imamku itu bisa jadi kamu atau siapapun yang sudah digariskan Allah untukku.

sekarang aku sadar kalau semakin dalam perasaanku padamu, semakin tidak akan baik kedepannya. Aku tidak mau mempunyai perasaan yang dalam kepadamu melebihi dalamnya perasaanku terhadap Allah. aku sadar rasaku padamu sangat susah dihilangkan, bahkan semakin lama semakin dalam. perasaan yang saat kecil dulu hanya sebatas kagum saja, tidak kusangka bisa berubah begitu dalam saat kita beranjak dewasa.

aku pernah di satu titik sangat menginginkanmu, tetapi untungnya Allah masih menuntunku untuk berfikir lebih jernih. aku bukannya sok suci atau sok religius, aku hanya sedang dalam tahap belajar memantaskan diriku untuk imamku kelak. aku sadar aku masih sangat jauh dari yang namanya mengamalkan semuanya. kalaupun aku berharap kamu lah yang jadi imamku, berarti aku masih harus belajar dan berusaha keras memantaskan diriku, karena lelaki yang baik untuk perempuan yang baik, kan?

keputusanku untuk mulai menutup auratku tahun lalu memang menjadi pertanyaan banyak orang - orang disekitarku, banyak yang bilang karena aku dekat denganmu. tapi mereka salah, aku memutuskannya setelah berdebat selama setahun dengan hatiku, mungkin dekat denganmu lah yang membuatku semakin yakin. apalagi sejak perbincangan kita di telepon saat ramadhan tahun lalu. kamu benar - benar membuatku terkagum - kagum dengan pengetahuanmu tentang agama, benar - benar membuatku merasa rendah diri sekaligus terpacu untuk jadi lebih baik.

kamu tau, pertemuan kita yang kemarin akhirnya membuatku menyadari satu hal, aku yang biasa selalu deg - degan bahkan salah tingkah didekatmu mulai merasa nyaman. waktu itu aku benar - benar sudah tidak deg - degan lagi, aku sudah mulai nyaman dan menikmati setiap waktu yang kita habiskan bersama. apa rasaku padamu mulai berubah? entahlah, aku rasa rasaku masih sama.

kamu tau, ketika semua orang menyuruhku untuk melupakan dan move on darimu, aku selalu punya jawaban jitu, yaitu aku bakalan move on dan membuka hatiku untuk orang lain kalau kamu sudah menemukan pendamping hidupmu. sounds pathetic, rite? tapi begitulah keinginanku. beberapa waktu yang lalu aku dimarahi seorang cowok yang sedang mendekatiku, aku dibilang cuek dan tidak punya hati plus bodoh karena mengharapkanmu tapi malah menyia - nyiakan dia yang menurutnya sayang padaku. tapi sekali lagi aku hanya menerima marahnya dengan diam, karena kita tidak bisa menebak kemana rasa kita akan jatuh kan? aku tidak meminta dia punya rasa padaku, dari awalpun aku sudah membuat batasan yang cukup jelas, tapi dia tidak mau tau dengan batasan itu dan akhirnya menyalahkanku karena menolaknya. ah sudahlah aku tidak mau menceritakan hal yang tidak seharusnya.

jujur, aku memang masih mengharapkanmu, masih menunggumu. akan tetapi mulai sekarang aku akan berusaha meredamnya. mungkin lebih baik kamu ada didalam doaku saja seperti yang sudah - sudah. menjadikanmu bagian dalam doaku, mungkin itu hal yang paling baik untuk saat ini. kadang rasaku padamu kurasakan semakin dalam, bahkan membuatku merindukanmu, tapi lagi - lagi aku harus meredamnya dengan doa pada tuhanku.

kepada kamu yang baik kamu sadar atau tidak, sudah membuatku menjadi jauh lebih baik, aku berterima kasih atas hadirnya kamu dalam hidupku lagi. mempunyai rasa padamu pun aku maknai sebagai sebuah anugrah sekaligus ujian buatku. aku tahu kamu sedang memnataskan diri untuk menjadi imam yang lebih baik bagi jodohmu kelak, begitupun aku, aku akan belajar dan berusaha memantaskan diri untuk jadi lebih baik bagi imamku kelak. mungkin kamu akan selalu jadi pembanding dan pengharapan dalam setiap sholat dan doaku, akan tetapi apapun yang sudah di gariskan Allah untukku, aku akan ikhlas menerimanya.

aku tidak tau sampai kapan rasa ini akan selalu ada, akan tetapi semoga Allah segera menghapusnya kalau kamu memang bukan jodohku, akan lebih baik kalau rasa yang ada untukmu aku jaga untuk imamku kelak. kalau pun kedepannya kita tidak ditakdirkan bersama, Allah mungkin menyiapkan hubungan saudara antara sesama muslim bagi kita berdua.

kepada kamu, pria yang aku harapkan jadi imamku kelak, semoga kita bisa memantaskan diri sebaik - baiknya, menjaga rasa dan hati kita, seperti yang kamu bilang dulu, kalau kita jodoh, Alhamdulillah, kalaupun tidak berarti Allah sudah menyiapkan jodoh yang baik untuk kita berdua. menyebutkanmu setiap hari dalam doaku mungkin masih menunjukan keegoisanku, tapi hanya itu yang bisa aku lakukan untuk sekarang. doaan aku, semoga aku bisa mulai menghilangkan rasaku yang terlalu dalam padamu sekarang, karena aku ingin kalau suatu saat kita berjodoh, aku bisa memulai kembali rasaku padamu dari awal dan yang telah halal dimata Allah. kalau pun tidak berjodoh semoga saja rasa itu bisa aku tumbuhkan bersama imam yang sudah ditakdrikan padaku.

kamu, aku harap juga memantaskan dirimu, jangan jumawa dengan keadaanmu sekarang, jangan menumbuhkan hal yang tidak ingin kamu rawat sepenuh hatimu. rawatlah rasa yang sedang kamu tumbuhkan untuk jodohmu kelak. aku yakin kamu akan menjadi imam yang baik untuk jodohmu kelak. semoga jodoh yang sedang kamu nanti dan kamu harapkan itu segera didekatkan Allah padamu.

sekali lagi maaf karena sudah mempunyai rasa yang tidak seharusnya aku rasakan saat ini padamu.


Unknown
dear the best man in my life,,,

aku begitu terkejut dengan pertanyaanmu waktu itu, pertanyaan yang aku fikir tidak akan pernah engkau tanyakan. pertanyaan yang berhasil membuat aku hanya terdiam dan tidak mampu menjawabnya. jujur, waktu engkau melontarkan pertanyaan itu, aku sangat terkejut dan tidak sanggup menatap matamu. sebuah pertanyaan yang tiba - tiba terlontar hanya karena engkau melihatku menatap pasangan kekasih yang berada di depan kita. mungkin waktu itu engkau berfikir kalau aku iri melihat mereka, makanya engkau melontarkan pertanyaan itu padaku.

pertanyaan yang sebenarnya sangat simple, tapi entah kenapa sangat bermakna bagiku. Karena untuk pertama kalinya engkau bertanya apakah aku sudah punya pacar atau belum?. Sebuah pertanyaan sederhana dan pastinya mempunyai jawaban yang sederhana, yaitu punya atau tidak. seandainya orang lain yang bertanya seperti itu padaku, mungkin dalam hitungan detik aku akan langsung menjawabnya. Tetapi pertanyaan ini berasal dari engkau, seorang pria tersayang dan terbaik dalam hidupku. seorang pria yang cuek tapi diam - diam perhatian, pria yang mengajariku tentang hidup, pria yang mau tidak mau ikut membentuk watakku menjadi seperti saat sekarang. 

Engkau, pria yang mengajariku Bahasa Inggris, pria yang membuatku menyukai AC Milan, klub sepak bola asal Italia kesukaanmu, pria yang selalu berhasil membuatku tertawa, walau kadang bercandamu garing, pria yang selalu menemaniku dalam diam dan membiarkanku bersandar dipundakmu, pria yang selalu bersikap cool kalau aku ajak berfoto bersama. Pertanyaan engkau hari itu akhirnya aku jawab dengan gelengan kepala, entah kenapa aku melihat guratan antara lega dan sedih di mata dan wajahmu. Aku tau engkau mungkin lega karena tau aku tidak punya pacar, mungkin engkau juga sedih, karena diumurku yang sudah sepantasnya punya pendamping hidup, aku masih sendiri.

dear Ayah tersayang, " kencan " kita berdua sore itu memang sangat membekas bagiku. engkau yang selama ini selalu memperlihatkan wajah jutekmu setiap ada teman lelakiku yang datang kerumah, tiba - tiba bertanya aku sudah punya pacar belum. aku tidak menyangka engkau akan mempertanyakan hal itu. Sore itu pun engkau memintaku mencari pendamping hidup, bukan seorang pacar. 

Yah, seperti yang aku bilang sore itu, kalau suatu saat ada pria yang datang melamarku kepada engkau, itulah pria yang aku pilih untuk menjadi imamku, tenang saja yah, inshaa Allah aku tidak akan sembarangan dalam memilih. aku tau engkau khawatir kalau gadis kecilmu satu - satunya ini salah dalam memilih. engkau tau, dari dulu aku sangat mengagumimu, bahkan aku berharap punya pendampinng yang sepertimu. bukan soal fisik tapi soal caramu menyayangi keluarga.

Yah, aku masih ingat dulu waktu kecil engkau selalu menghadiahiku dengan hal apapun yang aku mau, tapi engkau juga tidak memanjakanku, bahkan disaat aku sudah mulai agak besar engkau menyuruhku belajar tae kwon do, engkau juga mengajariku bisa mnegendarai sepeda tanpa roda bantu, motor bahkan mobil disaat usiaku baru menginjak sebelas tahun. engkau juga mengajariku bagaimana mengganti ban yang bocor, mengajakku masuk ke kolong mobil untuk membantumu memperbaikinya, engkau juga mengajarkanku disiplin dengan caramu sendiri. aku masih ingat waktu aku merengek meminta dibuatkan SIM, engkau tidak mau karena saat itu aku belum tujuh belas tahun, yah walaupun akhirnya tepat diumur delapan belas tahun baru engkau tepati janjimu membuatkan aku sim. 

Yah, kita selalu disebut parnert in crime oleh ibu, bagaimana tidak, engkau selalu membelaku disaat ibu memarahiku, kita punya banyak kesamaan dalam hal apapun. walau terkesan memanjakan, tapi engkau tidak membuatku menjadi manja, aku masih ingat waktu aku meminta untuk mengganti warna cat kamarku, ibu langsung melarang tapi engkau langsung pergi dan kembali lagi dengan sekaleng cat, lalu menyuruhku mengecat kamarku sendiri, walau akhirnya engkaulah yang mengecatnya. engkau selalu mengajariku semua hal yang seharusnya cowok lakukan, dan selalu membuat ibu kesal karena anak perempuan satu - satunya tumbuh menjadi perempuan yang rada tomboy.

tahukah engkau ayah, aku bersyukur engkau dan ibu mengajariku semuanya, engkau mengajariku hal - hal yang seharusnya cowok biasa lakukan, seperti alasan yang engkau bilang pada ibu, kalau engkau mau aku mandiri, tidak tergantung pada orang lain. Ayah, aku tau engkau masih menganggap aku gadis kecilmu yang selalu engkau ajak " kencan " hanya untuk sekedar makan  makanan favorite kita berdua, gadis kecil yang selalu engkau ajak untuk bertukar pendapat bahkan berdebat soal politik, gadis kecil yang selalu engkau ajak begadang nonton bola bersama, gadis kecil yang engkau ajarkan bagaimana memelihara kucing, dan hal - hal yang seharusnya engkau ajarkan kalau seandainya engkau punya anak laki - laki. terlepas dari semua hal yang " seorang wanita harus bisa melakukannya " selalu ibu ajarkan padaku, aku sangat bersyukur mempunyai ayah seperti engkau. aku tau engkaupun ingin punya cucu, melihatmu dengan anak kecil, aku yakin suatu saat kalau aku punya anak, anakku akan mempunyai kakek terbaik yang ada didunia.

Yah, kalau suatu saat aku sudah bertemu dengan pendamping hidupku, engkau tenang saja, karena tidak ada seorang priapun yang mengganti posisimu dihatiku. sore itu, ketika engkau memintaku untuk memperkenalkan calon pendampingku padamu dulu,(sebelum kukenalkan pada ibu) karena engkau ingin mengenal dan membagi cerita tentangku padanya, aku sangat bahagia mendengarnya. aku tau mungkin sekarang engkau sudah mulai merelakan gadis kecilmu untuk menapaki hidup dewasanya. jadi yah, engkau tunggu saja, inshaa Allah suatu saat kalau ada pria yang melamarku padamu, itulah orang yang aku pilih. untuk sekarang, janganlah engkau risaukan aku, aku masih belum menemukannya, jadi aku masih gadis kecilmu yang selalu memintamu menyuapiku makan, kita masih akan selalu jogging pagi bersama, aku masih akan meminjam pundakmu untuk bersandar, aku masih akan menjadi lawan bicaramu soal bola dan politik, masih akan selalu memasakan masakan kesukaanmu, walau engkau selalu bilang masakanku tidak seenak masakan ibu. 

dear pria yang posisinya tak akan pernah terganti, aku akan selamanya menjadi gadis kecilmu yah, yang selalu kau ingatkan untuk segera tidur, yang selalu menikmati ucapan selamat tidurmu, yang selalu tertawa dengan lelucoanmu, yang selalu lupa minum obat tiap hari, sampai - sampai engkau selalu membawakannya padaku, yang selalu berebut remote tv denganmu, bahkan berebut toilet pagi, aku heran padahal di rumah kita punya 2 toilet, tapi entah mengapa setiap pagi kita selalu berebutan.

ayah, suatu saat waktu aku menemukan pendamping hidupku, engkau lah orang pertama yang akan tau dan mengenalnya, dan inshaa Allah dia bisa menjadi anak lelaki yang sayang padamu seperti aku menyayangimu,

i love you to the moon and never back dad,,
- gadis kecilmu selamanya -
Unknown

 

Lemme introduce you to my second family, sebuah geng or u should call it friendship. Lemme tell you where the “ Cekcok “ came from. Cekcok itu sebenernya sebuah celetukan yang tidak sengaja dilemparkan oleh Fadli kurnia a.k.a pak wo. Semua bermula di tahun 2012, bermula dengan silaturrahmi disaat lebaran dan sejak saat itu lah cekcok dimulai. Gue, unni dan udaa pernah satu sekolah waktu SD, sementara pak wo dan udaa satu sekolah waktu SMP, nah waktu SMA, gue, unni dan pak wo satu kelas sejak di kelas 2 SMA, waktu kuliah, pak wo dan udaa satu jurusan.



Mulai dari 2012 itulah kami berempat mulai dekat, mulai dari obrolan absurd di grup whatsapp, conference call yang geje. Kenapa hanya lewat whatsapp atau telpon, karena kita dipisahin jarak, diantara cekcokers, Cuma gue yang masih tetap setia stay di Padang, pak wo ngelanjutin s2 di Bandung, udaa udah kerja di Jakarta, unni kuliah di Bandung. Jadi kita biasa manfaatin waktu lebaran buat ajang kumpul sama – sama lagi. Hal yang selalu bikin kangen sama cekcok itu, karena kalau sama – sama mereka gue bisa jadi diri sendiri, jadi yang paling kecil, jadi bisa kekanak – kanakan plus manja, walaupun jadi objek pembullyan juga sih. Hahahaha.

cekcok 2013 

 
Setelah ketemu January kemaren di Bandung, akhir November kemaren kita kumpul lagi di Bandung. Thanks to my mom who gave me this prize, kalau ga mungkin baru tahun depan bisa kumpul lagi. Setelah dirundingkan di grup, akhirnya kita mutusin buat ngumpul di Bandung, awalnya sih di Jakarta, tapi berhubung pak wo lagi sibuk sama thesis dan ga bisa pergi ke Jakarta, akhirnya kita ketemuan di Bandung. Bagi gue sih mau ketemu dimana mah terserah aja, as long as kumpulnya berempat gue ikut aja. Liburan kemaren di Bandung emang singkat banget, gue berangkat Jumat, balek lagi ke Padang hari Minggunya, tapi walaupun kami Cuma bisa jalan sehari tapi udah bisa bikin gue bener – bener bahagia. 

Liburan kali ini, pak wo merekomendasikan kami ke “ tebing keraton “ yang kalau gue liat dari foto –foto yang ada tempatnya emang keren banget. Nah, karena Bandung itu kalau weekend macet, kita mutusin buat rental motor, daripada pake mobil dan kejebak macet, ya mending pakai motor.  Jalan ke “ tebing keraton “ bener – bener bikin aldrenalin naik ( okey gue hiperbola dikit ). Jalanannya menanjak plus belum di aspal di tambah berbatu dan ternyata cukup jauh dari yang gue fikir. Sampai disanapun kita mesti jalan kaki ke tebing keraton tersebut, sampai disana gue agak kecewa, karena tidak sesuai dengan harapan dan foto – foto yang gue liat, tapi pak wo bilang itu karena kita kesananya udah siang. Yah walaupun rada kecewa, tapi pemandangannya lumayan bagus plus sejuk walau matahari bersinar dengan ganasnya. As usual , ga perlu waktu lama langsung deh foto – foto, hahahaha. Of course our king of selfie bakalan tetap mendominasi foto, diikuti oleh uda dan unni, gue sebagai yang kecil hanya melihat aja. Hahahaha.

Setelah ke tebing keraton, awalnya mau pergi ke wisudaannya arif, tapi ya karena udah telat banget plus arif nya geje, unni ngajak pergi ke dusun bambu, yang katanya ga kalah sama floating market yang udah kita datengin Januari lalu. Once again, jalan kesana jauh euy, mungkin karena baru pertama kali kesana makanya rasanya jauh banget, untungnya jalan kesana udah bagus, ga kaya jalan ke tebing keraton tadi. Di dusun bambu, sebenernya ga jauh bedalah sama floating market, tapi ya gitu, karena belum pernah kesana tetap aja kita explore tuh dusun bambu. Sayangnya disana hujan, jadinya ga keseluruhan dusun bambu itu di explore. Pulang dari dusun bambu, kita mutusin buat nyari tempat makan, badan udah capek, letih, laper plus lelah dedek babang,, hahahaha.


Akhirnya kita makan ditempat yang direkomendasikan unni, yeay, finally hang out sama cekcokers. Dari dulu gue emang selalu pengen hang out sama mereka tapi ga bisa soalnya kan kita pada jauhan. Kalau bisa diekspresikan dalam satu kata buat menggambarkan liburan kali ini, gue bakalan pake kata” BAHAGIA!!!!”. Sebenernya gue capek tapi gue bahagia.


Dari dulu kalau sama cekcokers gue memang selalu bahagia, kita selalu ga kehabisan bahan buat di bicarain, pak wo dengan tingkahnya yang selalu sukses bikin ketawa, udaa yang narsis, unni yang kadang narsis juga  dan gue yang selalu jadi korban bully, but its okey walau di bully gue bahagia.
Tapi liburan kali ini juga bikin gue sadar gimana gue sayang banget sama cekcokers, mereka udah seperti saudara bagi gue, apalagi gue anak tunggal. Pak wo yang biasanya hiperaktif ternyata bisa kalah juga sama masuk angin, dan sukses bikin gue, udaa dan unni cemas. Liburan kali ini, gue juga ngerasa cekcok udah semakin deket, udah semakin seperti keluarga kedua bagi gue. Gue jadi ngerasa punya abang yang jadi mood maker buat gue, thanks to you pak wo. Punya abang yang bikin gue jadi berusaha jadi pribadi yang lebih baik, thanks to you udaa. Punya kakak yang selalu ada dan jadi tempat buat gue cerita apapun itu, thanks to you unnn.

Liburan kali ini juga bikin gue jadi lebih peka dan ga cuek lagi, gue sadar how time flies and changing everything. Baru January kemaren ketemu, November ini cekcokers udah mulai berubah, pak wo udah mulai terlihat dewasa, berkharisma serta lebih cakep, dari dulu sih emang dewasa secara yang paling tua, tapi dulu masih kaya anak – anak belum sedewasa sekarang. Udaa pun juga udah mulai dewasa, pipinya udah chubby plus lebih gendutan tapi masih seganteng yang dulu, walau masih lebih ganteng waktu saat pertama kita ketemu. Unni pun juga lebih dewasa, keibuannya mulai keliatan euy plus tambah gimana gitu. Yah itu Cuma perubahan secara fisik sih. Sikap sama sifat sih masih sama seperti yang dulu, kita masih suka  “ kekinian “, masih ngerasa muda plus berjiwa remaja. Hahaha. Liburan kali ini pun akhirnya gue sadar kalau gue udah ga moody lagi, udah ga terlalu introvert lagi. Semoga aja kedepannya cekcok bisa lebih deket dari yang sekarang.



Gue sangat bahagia dengan liburan singkat ini. Seperti yang pak wo bilang waktu akan pulang malam itu, semoga waktu kita kumpul lagi, pak wo sudah bergelar MT, udaa udah dapet jodoh buat siap nikah, unni udah dapet kerjaan, gue juga udah kerja. 

Semoga cekcok long last sampe akhir hayat, walau ke depannya semua udah punya pasangan masing – masing tapi kita bakalan tetap bisa kumpul as cekcok.

Harapan gue, semoga kita berempat bisa pergi liburan sama – sama, mungkin setelah pak wo selesei thesis, atau kapanpun kita bisa, dan semoga dalam waktu deket ini. masih belum bisa move on sebenarnya,, but alhamdulillah gue BAHAGIA.

terima kasih udah ada dalam hidup gue, udah mau berbagi waktu dan cerita tentang hidup bersama. when i tell you that i love you guys, i really mean it. 

.


Unknown


I missed when we talk about nothing for along time

I missed all the “ nothing “ joke that we have been shared

I missed them in my life

Setelah beberapa waktu memutuskan untuk menepi dan berfikir sejenak, aku memutuskan untuk sedikit menjaga jarak dari mereka. Bukan karena ada sesuatu yang salah atau tidak saying lagi dengan mereka. Tapi aku menjaga jarak untuk menyembuhkan hatiku, karena selama masih dekat mereka, hatiku tidak akan bias sembuh, hatiku tidak akan bisa menyembuhkan lukanya sendiri. Karena setiap memulai sebuah cerita atau percakapan dengan mereka, pembahasaan akan selalu mengarah kepada dia, dia yang seharusnya sudah aku lupakan dan aku geser artinya di hatiku. 

Sekarang, aku tiba – tiba kangen dengan mereka, kangen bercanda seperti dulu lagi, kangen jalan – jalan bareng lagi, kangen pembicaraan absurd di whatsapp. Aku tau dari dulu kita selalu dipisahkan jarak, tapi entah mengapa aku begitu kehilangan mereka sekarang. Mungkin karena kita sudah dewasa dan punya kehidupan masing – masing, tapi untuk sekarang aku kangen masa – masa kita masih komunikasi dulu, bukan seperti sekarang, yang sudah seperti orang lain.
 
Aku ingin kita bisa bercanda seperti dulu lagi,

Aku ingin kita melakukan pembicaraan absurd lagi di conference call ataupun whatsapp

Aku ingin kita jalan – jalan lagi

Aku ingin kita menghabiskan waktu bersama lagi

Aku kangen kalian,, orang – orang yang lebih dari sahabat bagiku..

Aku berharap semoga akhir November tahun ini kita bisa merayakan ulang tahun kalian bertiga yang semuanya jatuh di bulan November..