kepada kamu,
sebelumnya aku minta maaf, maaf karena sudah punya rasa yang seharusnya tidak boleh aku rasakan. kenapa tidak boleh? bukankah rasa itu juga anugrah dari tuhan? mungkin kamu akan bertanya seperti itu. dulu aku pun berfikir seperti demikian, tapi semakin berkurangnya umurku dan semakin dewasanya aku memaknai hidup, akhirnya aku sadar kalau aku tidak boleh punya rasa terhadapmu. seharusnya aku menyimpan dan memupuk rasa itu untuk seseorang yang akan jadi imamku kelak. imamku itu bisa jadi kamu atau siapapun yang sudah digariskan Allah untukku.
sekarang aku sadar kalau semakin dalam perasaanku padamu, semakin tidak akan baik kedepannya. Aku tidak mau mempunyai perasaan yang dalam kepadamu melebihi dalamnya perasaanku terhadap Allah. aku sadar rasaku padamu sangat susah dihilangkan, bahkan semakin lama semakin dalam. perasaan yang saat kecil dulu hanya sebatas kagum saja, tidak kusangka bisa berubah begitu dalam saat kita beranjak dewasa.
aku pernah di satu titik sangat menginginkanmu, tetapi untungnya Allah masih menuntunku untuk berfikir lebih jernih. aku bukannya sok suci atau sok religius, aku hanya sedang dalam tahap belajar memantaskan diriku untuk imamku kelak. aku sadar aku masih sangat jauh dari yang namanya mengamalkan semuanya. kalaupun aku berharap kamu lah yang jadi imamku, berarti aku masih harus belajar dan berusaha keras memantaskan diriku, karena lelaki yang baik untuk perempuan yang baik, kan?
keputusanku untuk mulai menutup auratku tahun lalu memang menjadi pertanyaan banyak orang - orang disekitarku, banyak yang bilang karena aku dekat denganmu. tapi mereka salah, aku memutuskannya setelah berdebat selama setahun dengan hatiku, mungkin dekat denganmu lah yang membuatku semakin yakin. apalagi sejak perbincangan kita di telepon saat ramadhan tahun lalu. kamu benar - benar membuatku terkagum - kagum dengan pengetahuanmu tentang agama, benar - benar membuatku merasa rendah diri sekaligus terpacu untuk jadi lebih baik.
kamu tau, pertemuan kita yang kemarin akhirnya membuatku menyadari satu hal, aku yang biasa selalu deg - degan bahkan salah tingkah didekatmu mulai merasa nyaman. waktu itu aku benar - benar sudah tidak deg - degan lagi, aku sudah mulai nyaman dan menikmati setiap waktu yang kita habiskan bersama. apa rasaku padamu mulai berubah? entahlah, aku rasa rasaku masih sama.
kamu tau, ketika semua orang menyuruhku untuk melupakan dan move on darimu, aku selalu punya jawaban jitu, yaitu aku bakalan move on dan membuka hatiku untuk orang lain kalau kamu sudah menemukan pendamping hidupmu. sounds pathetic, rite? tapi begitulah keinginanku. beberapa waktu yang lalu aku dimarahi seorang cowok yang sedang mendekatiku, aku dibilang cuek dan tidak punya hati plus bodoh karena mengharapkanmu tapi malah menyia - nyiakan dia yang menurutnya sayang padaku. tapi sekali lagi aku hanya menerima marahnya dengan diam, karena kita tidak bisa menebak kemana rasa kita akan jatuh kan? aku tidak meminta dia punya rasa padaku, dari awalpun aku sudah membuat batasan yang cukup jelas, tapi dia tidak mau tau dengan batasan itu dan akhirnya menyalahkanku karena menolaknya. ah sudahlah aku tidak mau menceritakan hal yang tidak seharusnya.
jujur, aku memang masih mengharapkanmu, masih menunggumu. akan tetapi mulai sekarang aku akan berusaha meredamnya. mungkin lebih baik kamu ada didalam doaku saja seperti yang sudah - sudah. menjadikanmu bagian dalam doaku, mungkin itu hal yang paling baik untuk saat ini. kadang rasaku padamu kurasakan semakin dalam, bahkan membuatku merindukanmu, tapi lagi - lagi aku harus meredamnya dengan doa pada tuhanku.
kepada kamu yang baik kamu sadar atau tidak, sudah membuatku menjadi jauh lebih baik, aku berterima kasih atas hadirnya kamu dalam hidupku lagi. mempunyai rasa padamu pun aku maknai sebagai sebuah anugrah sekaligus ujian buatku. aku tahu kamu sedang memnataskan diri untuk menjadi imam yang lebih baik bagi jodohmu kelak, begitupun aku, aku akan belajar dan berusaha memantaskan diri untuk jadi lebih baik bagi imamku kelak. mungkin kamu akan selalu jadi pembanding dan pengharapan dalam setiap sholat dan doaku, akan tetapi apapun yang sudah di gariskan Allah untukku, aku akan ikhlas menerimanya.
aku tidak tau sampai kapan rasa ini akan selalu ada, akan tetapi semoga Allah segera menghapusnya kalau kamu memang bukan jodohku, akan lebih baik kalau rasa yang ada untukmu aku jaga untuk imamku kelak. kalau pun kedepannya kita tidak ditakdirkan bersama, Allah mungkin menyiapkan hubungan saudara antara sesama muslim bagi kita berdua.
kepada kamu, pria yang aku harapkan jadi imamku kelak, semoga kita bisa memantaskan diri sebaik - baiknya, menjaga rasa dan hati kita, seperti yang kamu bilang dulu, kalau kita jodoh, Alhamdulillah, kalaupun tidak berarti Allah sudah menyiapkan jodoh yang baik untuk kita berdua. menyebutkanmu setiap hari dalam doaku mungkin masih menunjukan keegoisanku, tapi hanya itu yang bisa aku lakukan untuk sekarang. doaan aku, semoga aku bisa mulai menghilangkan rasaku yang terlalu dalam padamu sekarang, karena aku ingin kalau suatu saat kita berjodoh, aku bisa memulai kembali rasaku padamu dari awal dan yang telah halal dimata Allah. kalau pun tidak berjodoh semoga saja rasa itu bisa aku tumbuhkan bersama imam yang sudah ditakdrikan padaku.
kamu, aku harap juga memantaskan dirimu, jangan jumawa dengan keadaanmu sekarang, jangan menumbuhkan hal yang tidak ingin kamu rawat sepenuh hatimu. rawatlah rasa yang sedang kamu tumbuhkan untuk jodohmu kelak. aku yakin kamu akan menjadi imam yang baik untuk jodohmu kelak. semoga jodoh yang sedang kamu nanti dan kamu harapkan itu segera didekatkan Allah padamu.
sekali lagi maaf karena sudah mempunyai rasa yang tidak seharusnya aku rasakan saat ini padamu.

Posting Komentar