" lebih baik kamu tanya dulu hati kamu, mau ga diperjuangin? mau ga berjuang? udah sedalam apa sih rasa kamu terhadap dia? penasaran atau beneran punya rasa? "
sebuah bagian dari percakapan antara gue dan mantan gue hari itu. sebenarnya hari itu gue lagi feeling blue, lagi nggak pengen diganggu, lagi pengen menyendiri dikamar sambil baca buku. as an introvert, gue memang selalu melarikan diri dengan baca buku, dengar musik atau tidur. gue lebih suka sendiri dari pada mesti keluar rumah ketemu keramaian yang sering bikin gue sakit kepala. awalnya gue berniat untuk mematikan handphone seharian, tapi entah mengapa baru saja mau matiin handphone, tiba - tiba handphone gue bunyi, pas diliiat ternyata mantan gue nelpon. gue sampai sekarang emang belum bisa mengkategorikan mantan itu masuk dimana, mau dianggap temen, susah, dianggap sahabat juga ga bisa. tapi gue bersyukur hubungan gue dengan mantan gue masih baik walau kita putus, masih sering komunikasi walau dia hubungi gue kalau lagi berantem sama pacar barunya plus curhat minta saran ke gue gimana bisa baikan lagi.
hari itu dia nelpon gue karena kangen ( iya , kangen. kangen ngebully gue maksudnya ) dan karena udah lumayan lama kami nggak ketemu dan komunikasi. berhubung saat itu mood gue lagi dalam kondisi yang nggak baik, gue cuma menimpali obrolannya seadaanya, nggak begitu antusias tapi kalau mau matiin juga nggak enak. tapi untungnya dia ngerti gue ( ya iyalah ngerti, secara dulu paling sering ngehadapin gue dalam bad mood yang sering ilang timbul ), mungkin karna gue nggak begitu antusias, akhirnya dia nanya, gue kenapa, lagi ada masalah?. itulah kelemahan gue gue emang suka nyimpan semua sendiri, agak sedikit susah untuk mulai cerita, tapi begitu udah ditanya, gue akan akan cerita tanpa jeda sedikitpun, hahaha. karena itulah, dimulailah curhatan gue ke dia.
setelah gue curhat panjang lebar, dia cuma ketawa, gondok banget kan waktu kita udah curhat panjang lebar malah ditanggapi dengan ketawa, makin gue kesel, dia semakin ketawa lebih keras. akhirnya setelah sadar kalau gue diam seribu bahasa, dia akhirnya nanya, " trus kalau emang kamu udah ngerasa jelas dan tau gimana kamu sama dia pada akhirnya, kenapa masih bertahan? kenapa masih keukeh nunggu dia? kenapa nggak coba buka hati kamu buat orang lain yang lebih jelas punya rasa sama kamu, daripada dia yang masih nggak jelas? ". gue hanya diam, pertanyaan yang sama dari beberapa orang, gue udah sering ditanyain pertanyaan kaya gini dan sampai sekarang gue masih belum tau jawabannya apa.
mungkin karena gue diam, dia lanjut ngomong, " kamu belum berubah ya, masih tetap nggak peka dan cuek, masih suka main tebak - tebakkan ". gue hanya bisa tertawa mendengar dia ngomong begitu tentang gue, ya gue akui gue memang masih seperti yang dia bilang, gue masih ngga peka sama perasaan sendiri ataupun perasaan orang lain. kalau difikir - fikir lagi, dulu waktu gue dan dia masih berada dalam satu hubungan, dia lah yang sering berjuang untuk kita, dia lah yang banyak bersabar dalam menghadapi cuek gue yang sudah mendarah daging, jadi wajar aja dia lebih milih yang lebih perhatian dibanding gue ;').
perbincangan hari itu dengan dia, sedikit banyaknya udah ngebuka hati dan mata gue, gue memang belum berubah, masih belum bisa menghilangkan sikap gue yang amat sangat teramat cuek, apalagi dia bilang kalau cowok itu suka diperhatiin. dia juga nyuruh gue untuk mikirin soal hati gue yang sebenarnya, gue diminta buat misahin antara penasaran sama rasa. dia juga minta gue untuk lebih mikirin dengan serius soal pandangan gue tentang bebas dan sendiri. ah, seandainya dia tau kalau salah satu yang membuat gue betah sendiri sampai sekarang, karena gue trauma untuk punya hubungan yang lama tapi ujung - ujungnya ditinggal juga. hahaha.
gue memang complicated, gue berfikir gue sayang dan i wanna make him to be mine, tapi kenyataannya gue nggak pernah berjuang untuk dapetin dia, gue berfikir kalau gue kalau gue sayang, tapi gue nggak pernah mau jadi lebih cantik hanya untuk dia, gue berfikir gue sayang, tapi gue malah selalu cuek dan tidak sedikitpun berusaha memahami, mengenal dia lebih dalam, gue nggak tau apa yang dia suka, dia alergi terhadap apa, apa yang bisa bikin dia kesel, apa hal yang bikin dia seneng. ah, pembicaraan hari itu bener - bener bikin gue berfikir lagi, mungkin gue memang lebih baik sendiri, memantaskan diri gue untuk jodoh gue kelak, karena perempuan yang baik untuk laki - laki yang baik kan?
terima kasih untuk telpon yang tidak terduga hari itu, gue beruntung punya seseorang seperti dia, walau hubungan kita berubah, tapi untungnya kita berdua sekarang jadi lebih baik, malah jauh lebih baik dibandingkan saat kita masih sama -sama.

Posting Komentar